sebentuk emosi untuk dia.
benamkan bunyi
menuntun malam ketengah hening yang terlalu dingin,
paras ini kemilau karena cerlang jiwa kita yang indah..
tapi aku terlampau parau untuk bernyanyi
bukankah berbisik selalu lebih baik saat tersembunyi?
kenapa kau begitu terobsesi pecahkan teka-teki dibalik senyum monalisa? menolak dan mengutuk keterlibatan logika?
: apa kau sudah gila?
biarlah airmata yang lembabkan hati tiap katamu keringkan rindu.
hh,.
betapa cinta ini berat
jika malaikat dengan segala sayapnya yang mewah saja tak kuasa bawaku terbang,
padahal mereka tak tahu saja,
sampai kapanpun aku memang enggan pergi
aku selalu mau pulang ke hatimu, bermalam tanpa tahu pagi datang..
bahkan aku tak tahu
apa kau sadari
bahwa kau adalah mimpiku,
(tahukah kau?)
hei lihat,
bulan penuh.
merahasiakan kepergian senja yang mendadak tua,
membuatku tersihir kerling purnama
lalu kenangan menghantamku
rebah,
luka
hampir saja aku sudahi sendiri nyawa ini,
tapi aku masih ingin bercinta denganmu
sampai bosan
sampai ada yang lebih mematikan
berdua, bertiga?
…
ssh, ada suara
ada Dia
ada
…
yang terakhir kuingat
hanya hangat
yang mengaliri pelipis,
gelap
ringan
hitam
dan mataku terpejam.
-untuk semua hasrat hitam yang hilang-
23122006
.. larut.
Uncategorized | Comment (1)